Jumat, 24 November 2017
 
  Artikel Taruna Bumi Khatulistiwa
umum
casis
alumni
Informasi visitor
Jml.Online : 199374
IP address : 54.198.108.19
 
KEGAGALAN PELAJAR KINESTETIK DAN PERAN KINESIOLOGI
ADMIN | 03 January 2009

Secara umum bahwa sekolah-sekolah masih cenderung melayani siswanya dengan cakupan orientasi pada kecerdasan linguistik dan matematis-logis. Hal ini menimbulkan masalah belajar pada pelajar kinestetik. Seperti disampaikan Gordon Dryden dan Dr. Jeannette Vos (tahun 2002) bahwa “para pelajar kinestetik adalah yang paling beresiko gagal dalam kelas tradisional Mereka perlu bergerak, menyentuh, atau bertindak. Jika metode pengajarannya tidak memungkinkan mereka melakukannya, mereka merasa ditinggalkan, tidak terlibat, dan bosan”. Sehingga, riset yang dilakukan Howard Gardner, Dunns, dan Barbara Prashing menunjukkan bahwa kebanyakan murid putus sekolah tidak mendapatkan yang terbaik di sekolah yang hanya menampung dua “ragam kecerdasan’ daru tujuh atau lebih ragam kecerdasan yang ada. Dan kebanyakan dari mereka uga merasa terabaikan di lingkungan sekolah yang tidak mendukung pembelajran kinestetik. Seharusnya, sebelum kasus putus sekolah itu terjadi, para guru/ortu sudah mengetahui akan kurang tepatnya pelayanan mereka untuk si anak. Sebab, kondisi di atas jelas berakibat pada perasaan yang terabaikan. Perasaan yang terabaikan inilah yang beresiko “stress” dalam diri siswa. Padahal, 80% kesulitan belajar itu berhubungan dengan stress. Untuk itu, kinesiologi mulai mencoba menghilangkan gejala ini. Seperti halnya kinestetik (gerakan), kinesiologi (ilmu tentang gerakan), dan kinestesia (kepekaan akan posisi, gerakan, dan ketegangan dari anggota tubuh) merupakan aspek-aspek yang penting pada gaya belajar. Kathleen Carroll-ahli kinesiologi dari Washington DC yang menerapkan strategi belajar cepat terpadu dalam pelatihannya-mengatakan, “Kinesiologi meningkatkan kemampuan akademik semua orang.” Jadi, kinesiologi berperan besar dalam membantu pelajar kinestetik yang mengalami stress dalam belajar. Sehingga, sebelum kasus putus sekolah terjadi, keteringgalan pelajar kinestetik dalam belajarnya, bisa diupayakan semaksimal mungkin melalui kajian kinesiologi. Partisipasi Ortu Sebagai Ortu, hendaknya berperan aktif dalam mencermati gaya belajar anak-anaknya, sebelum si anak benar-benar mengalami kegagalan. Apalagi bila ditemukan kekurangtepatan pelayanan sekolah/guru dengan gaya belajar si anak, seperti yang sering terjadi pada pelajar kinestetik. Komunikasikanlah masalah ini dengan pihak sekolah/guru. Sehingga, guru bisa mencoba mencari alternatif metode pelayanan belajar yang sesuai dengan kebutuhan si anak. Pelajar kinestetik cenderung memiliki kecerdasan kinestetik pula. Kecerdasan ini biasa ditemukan pada: penari, aktor, atlet, penemu, ahli bedah, karateka, pekerja luar, dan bakat mekanis. Adapun ciri yang menonjol adalah (1) memiliki daya kontrol tubuh luar biasa, (2) refleks yang sempurna, (3) belajar paling efektif dengan bergerak, (4) suka olah raga fisik, (5) suka menyentuh, (6) mahir dalam kerajinan tangan, (7) belajar dengan melibatkan diri pada proses belajar, (8) gampang mengingat apa yang dilakukan dan bukan apa yang dikatakan atau diamati, (9) resah jika tidak melakukan apa-apa, dan (10) berfikir mekanik. Berdasarkan ciri di atas, ortu di rumahpun harus kreatif untuk menyediakan pelayanan pelayanan belajar yang sesuai bagi si anak yang tergolong pelajar kinestetik tadi. Misalnya: (1) menggunakan tarian saaat belajar, (2) mengaktualisasikan gerak untuk belajar, (3) mendramatisasi proses belajar, (4) sering mengubah penataan meja belajar si anak, (5) memadukan gerak dengan materi pelajaran, (6) belajar melalui permainan peran/misalnya: si anak menjadi guru dan ortu menjadi murid, (7) saat belajar, gunakan permainan menjentik, bertepuk, ketukan kaki, meloncat, mendaki, (8) dan lain-lain. Dengan demikian, anak bukanlah obyek penderita yang selalu jadi sasaran keaktifan guru/ortu. Bahkan anak bisa menjadi subyek yang dinamis dalam proses belajar, sedang guru/ortu sebagai obyeknya. Sehingga, dengan pelayanan belajar yang tepat (khususnya untuk pelajar kinestetik) akan mengarahkan si anak pada aktivitas belajar yang menjurus pada profesi/pekerjaan yang sesuai bagi si anak pada masa depan. Jadi, ia tak perlu frustasi lagi gara-gara tak bisa mencapai cita-citanya!

««Back